5 Sektor Tahan Banting pada Resesi 2023, Apa Saja?

Kondisi perekonomian dunia yang kian tak menentu menimbulkan berbagai ancaman untuk tahun 2023. Hal itu membuat sejumlah investor dan pebisnis mencari tahu apa saja sektor tahan banting yang akan bertahan pada resesi 2023.      

Bank Dunia meramalkan bahwa resesi ini akan dialami oleh semua negara, baik negara maju maupun berkembang, termasuk Indonesia. Resesi ini merupakan dampak buruk dari pandemi Covid-19 yang telah terjadi selama 2 tahun lebih dan peperangan antara Rusia dan Ukraina.  

Prediksi IMF 

International Monetary Fund (IMF) memprediksi bahwa resesi bisa merugikan ekonomi global hingga US$ 4 triliun pada 2026. Berdasarkan hal tersebut, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, sehingga menjadi 2,9% saja pada tahun 2023. Direktur Pelaksana dari IMF, Kristalina Georgieva mengungkapkan suramnya prospek ekonomi global akibat meningkatnya risiko resesi 2023. 

Ditambah lagi dengan ketidakstabilan dan lambatnya pertumbuhan ekonomi di berbagai negara dengan keuangan terkuat. Sebut saja Cina, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa. Kondisi itu dapat mengurangi permintaan ekspor, yang tentunya berdampak pada menurunnya perekonomian berbagai negara berkembang.  

5 Sektor Tahan Banting saat Resesi  

Sektor Tahan Banting saat Resesi
Sektor Tahan Banting saat Resesi, Pexels/Karolina Grabowska

Menurut pendapat para praktisi dan pengamat, inilah berbagai sektor yang diperkirakan akan tahan banting saat menghadapi resesi tahun 2023:   

1. Kesehatan 

Sektor pertama tentunya adalah sektor kesehatan. Pasalnya, apa pun yang terjadi, setiap orang pasti membutuhkan produk dan layanan kesehatan. Entah itu sekadar konsumsi vitamin, pemberian obat, atau perawatan yang intensif di rumah sakit.    

Selain itu, sebuah studi yang berjudul Is Healthcare Employment Resilient and “Recession Proof”? pada tahun 2021 menemukan bahwa proses perekrutan di layanan kesehatan tetap stabil. Padahal saat itu terjadi penurunan ekonomi yang cukup drastis akibat pandemi Covid-19. 

2. Kebutuhan Pokok Konsumen

Delia Fernandez, seorang perencana keuangan bersertifikat dan pemilik Fernandez Financial Advisory di Los Alamitos, California menuturkan bahwa kebutuhan pokok konsumen merupakan akan tetap berkinerja dengan baik selama resesi. 

“Di dalam kondisi ekonomi yang amat merosot sekalipun kita pasti tetap membutuhkan kebutuhan pokok. Bagaimanapun juga, Anda harus makan, minum, membeli tisu toilet, dan lain sebagainya,” jelasnya dikutip dari Nerd Wallet pada Jumat, 28 Oktober 2022.   

3. Teknologi Informasi dan Komunikasi 

Sektor selanjutnya yang bertahan dengan kuat di dalam menghadapi resesi ialah teknologi informasi dan komunikasi. Ini mencakup data center, cloud computing, dan Artificial Intelligence (AI). 

Bhima Yudhistira selaku Direktur dari Center of Economics and Law Studies (Celios) menilai bahwa semua perusahaan mulai beradaptasi dengan dukungan sistem digital. Inilah yang menjamin kekuatan sektor teknologi informasi dan komunikasi.     

4. Perawatan Tubuh 

Selanjutnya, beliau juga mengatakan salah bahwa perawatan tubuh juga bisa bertahan menghadapi kerasnya resesi 2023. Hal ini karena saat pandemi Covid-19 berlangsung, terjadi booming skincare, yang terus digunakan sampai sekarang.  Dengan mobilitas yang mulai longgar, beliau menilai bahwa masyarakat akan cenderung mulai memperhatikan dan merawat tubuh dengan baik dan benar.    

5. Makanan dan Minuman 

Terakhir, sektor food and beverage (makanan dan minuman) yang berhubungan erat dengan kebutuhan dasar juga diprediksi mampu bertahan menghadapi resesi. Menurut beliau, makanan dan minuman dengan basis pangan lokal cenderung lebih mudah bertahan daripada yang impor. Hal ini karena resesi dapat menghambat pasokan komoditas impor.  

Akhir Kata 

Kelima sektor diatas diprediksi mampu tetap berkinerja baik dan tahan banting di tengah gelombang resesi tahun 2023 mendatang. Namun, kondisi resesi tetaplah tidak bisa diprediksi dengan tepat 100%. Dengan demikian, masyarakat, termasuk pebisnis dan investor diharapkan tetap berhati-hati di dalam mengatur keuangan dan mengambil keputusan keuangan.